Keesokan Harinya
Baiklah, keesokan harinya seperti biasa aku kembali ke sekolah, tapi hari ini aku diantar oleh ayah, jadi tidak mungkinlah aku terlambat lagi, setibanya di sekolah tepat di depan kelas aku masuk perlahan melewati pintu kelas terus langsung menyimpan tas di tempat duduk ku, mungkin hari ini rekor tercepatku datang ke sekolah krna di kelas baru beberapa teman kelasku yang datang begitu pula dengan kelas-kelas lainnya. aku berpikir kemarin-kemarin kenapa bisa terlambat yah, terus yang paling menyebalkannya lagi aku terlambat bersama anak itu, iyah si Dias, maksud aku gini kalau aku terlambat sama anak berandal itu ototmatiskan siswa-siswa yang lainnya pasti mengira aku berandal seperti dia dan aku gak mau sama sekali dianggap seperti itu, akan tetapi ada bagusnya juga sih, oh iya entah kenapa aku jadi ingat terus sama anak itu, sudah berandal, suka terlambat, tidak sopan dan bahkan guru saja mau dilawan sama dia. entah kenapa dari kemarin sampai hari ini itu terus yang aku pertanyakan.
Hari ini aku belajar mata pelajaran bahasa Indonesia, salah satu mata pelajaran yang aku sukai, ahh rasanya sangat bersemangat sekali hari ini, andai bisa belajar mata pelajaran yang aku sukai saja hehe,, hari ini kok rasanya ada yang kurang yah, biasa dibangku belakang ribut tapi hari ini kok sepi,senyap banget, aku menoleh kebelakang, *dalem hati* Si Rina kok belum datang yah? tumben-tumbennya, apa Dia sakit yah? tapi kok gak ada surat isinnya. Sepulang sekolah nanti mampir ke Rumah Rina ah, sekdar untuk memastikan Dia sakit atau kenapa. Sepulang sekolah seperti biasa nunggu angkot atau ojek ke rumah Rina sebelum kerumah. Memamng tadi pas pelajaran terakhir pulangnya agak sedikit telat, eh gak deh memang sangat terlambat, yang biasanya pulang jam setengah dua tapi sekarang pulangnya hampir jam empat, yah dimaklumilah karena ibu guru kan dulu sempat cuti beberapa minggu jadi akhir-akhir ini pulangnya terlambat. udah setengah jam nunggu angkot gak muncul-muncul juga, ini ojeknya apalagi, mau jalan kaki tapi jauh, mana tema-teman udah pada pulang duluan, Rasanya pengen nangis tapi apalah daya, dan akhirnya aku memberikan diri untuk berjalan kaki sendiri!, sumpah rasanya capek banget belajar seharian terus pulangnya jalan kaki.
Tiba-tiba dari belakang terdengar suara motor dalam hati ini pasti ojek nih, langsung aku balik badan. yah ternyata bukan, tapi kayaknya aku kenal anak cowok itu, oh dia Dias,tapi gak mungkin juga aku mau nebeng sama Dia, mau bilang apa kalau ditanyain nanti sama Ibu, Dia nengok ke arahku, kirain mau singgah tapi nyatanya dia cuma nengok dan terus-terus saja, padalah dalam hati berharap banget Dia singgah, dasar cowok brandal, eh tunggu dulu sepertinya Dia berhenti. tiba-tiba Dia putar arah dan berhenti pas didepanku. kita satu sekolahan kan?, iya aku bilang, kenapa jalan kaki ? dari tadi juga nunggu angkot sama ojek tapi gak muncul-muncul, yaudah naik, apa,, apa gak salah denger nih, anak berandal ini mau bonceng aku? tidak, tidak pasti dia cuma bercanda, aku tanya sekali lagi ke Dia, kamu beneran mau boncengin aku, iya naik cepat kalau gak aku tinggal nih kata Dias.
Aku naik ke motor Dia, dengan sedikit deg'degan, iya deg'deganlah secara kan aku anak cewek terus dibonceng sama cowok yang baru kenal, berandal lagi, normal dong kalau aku berpikiran seperti itu, di sisi lain aku juga berpikir kalau gak ikut sama Dia jalan kaki deh, mana jauh lagi, mungkin baru separuh jalan sudah pingsan aku. maka dari itu aku memutuskan ikut sama Dia apapun yang terjadi. Sepanjang jalan tak sepatah katapun yang terlontar dari mulut Dias begitupun aku, rasanya agak canggung kalauu memulai pembicaraan sama Dia. 45 Menit kemudian akhirnya sampailah aku didepan rumah dengan keadaan was-was, eittss jangan pergi dulu, ongkosnya mana ? apa,,, Dia minta ongkos? kirain ikhlas kataku dalam hati, oi jangan masuk rumah kamu dulu mana sinih dengan nada yang agak sedikit keras, kamu mau berapa kataku, 50 ribu kata Dias, yang benar saja kalau tau gitu tadi mending aku jalan kaki deh kataku, yaudah kalau gitu seribu saja, jangan bilang kamu gak punya yah, iya ini, aku kasiin ke Dias. tapi aku bingung juga sih kenapa cuma minta seribu doang, dasar anak aneh. Dias pulang dan aku langsung masuk kedalam rumah, sungguh pengalaman yang menegangkan tapi seru dan membuat aku malah jadi terus-terusan ingat si Dia, si anak brandal dan aneh ini, dalam kamar senyum-senyum sendiri.
Komentar
Posting Komentar